scholarship test umn

filosofi pantai

dulu
sebuah karang tetap dapat tegak berdiri di pasir
padahal setiap pasir menyentuh jemari kakiku
ditariknya aku ke bawah
setiap aku berada di garis ujung pantai
dan melihat ombak yang terus menerus membasuh bumi
tanpa jemu tanpa mengeluh
setiap angin berhembus membawa pesanku kemana - mana
dalam hati aku selalu bertanya - tanya
mengapa kalian, tak juga lelah ?



ah mungkin seperti itulah yang orang - orang bilang
jatuh............. apa itu namanya?
rasanya seperti ada yang menarik - narik ke bawah
tetapi tetap tegak berdiri, melawan korosi, melawan abrasi
tak jemu - jemunya mendatangi bumi
walau akhirnya kembali juga
kembali untuk datang lagi
terus menerus tiada henti
seperti pasir yang setia menunggu
partikel demi partikelnya dibawa ombak
entah kemana. entah bagaimana.
rela, digerogoti satu demi satu
untuk kembali lagi,
menjadi pribadi yang utuh
seperti angin yang memuat garam
tak dapat kau lihat, tak dapat didengar
tetapi bisa kau cium, bisa kau rasa

seperti samudera, yang selalu memeluk langit
entahlah...
apa itu namanya  ?
oh ........... cinta, betul itu. cinta..... 
aku mendefinisikannya ? harapmu saja!!
mana aku berani
berfilosofi
sendiri
disini?

ya kurang lebih begitulah
kau pasti mengerti
karena itulah aku selalu kembali
kembali, ke rumah.....
rumah kita
dulu. 

ini bukan puisi, bukan sajak, bukan soneta

ini bukan puisi, bukan sajak, bukan soneta
hanya sepenggal kata yang tersisa
yang terkristalisasi membentuk satu kisah
kisah tentang siapa ?

5 tahun sudah. hampir enam.
kemeja putih, satu lapis saja
3 tahun sudah. aku tenggelam
jas. satu lapis bertambah lagi
omong-omong, kau tampak menarik waktu itu
sungguh, malam yang tak terlupa
kini habislah sudah
2 lapis kini. berbalut jubah

banyak yang bilang jalan
yang kau tempuh adalah suatu kebodohan
banyak yang bilang yang kau perjuangkan
adalah kebanggaan, yang,
layak menerima topi yang diangkat atau tepuk tangan
dari suatu hall yang besar
berdiri
rendah riuh

bagiku,
entahlah.
aku berharap, sungguh - sungguh berharap
aku memiliki keberanian seperti kau
keberanian untuk memilih
jalannya sendiri
keberanian untuk mengambil langkah
tak peduli yang lain bilang apa 
walaupun jalan yang ditempuh tak pernah mudah
ribuan mil sudah kau melangkah
hanya untuk kembali,
kembali menjadi dirimu yang sebenarnya
sebagian kecil dariku tak rela
tetapi kenapa ?
kau siapa ku ? aku siapa mu ?

tetapi kelak akan kuceritakan cerita ini
ke anak cucu ke keturunan mungkin hingga ke tujuh
bahwa, mimpi............. bisa berubah
bahwa, keberanian sungguh ada
keberanian untuk berkata tidak
untuk menoleh ke belakang
dan kembali ke
persimpangan jalan.

041012

Self potrait - vector - pen tool - photoshop :))

my first scholarship uyeaaaa :*



summer is officially over.


I want to run to, that place in your heart where I will never be. 
It's been a while but I, got nowhere else to be. 
 So I run to the place I’ll never be. 
Into darker valley of your heart

Haunted places back in time. Bolder lines that hypnoti
ze. 
It’s you, they’re all the shape of you

I wait a while to realize
Seasons change when days go by
But you, nothing changes you

- Place I'll never be- Adhitia Sofyan

galaksi.


kau bilang 'bermimpilah setinggi langit'
aku tertawa keras - keras
aku dididik dari dulu
langit batasmu, tetapi galaksi batasku
dan sesuai dengan tak terhingganya galaksi
sejauh itu pula aku harus bermimpi

kau bilang 'terbaik' adalah tujuanmu
aku tertawa lagi, terbahak - terbahak
nenek moyangku selalu mengajarkan
saat kau terbaik, masih ada yang lebih baik darimu, bodoh!
kau mengernyit tanda tak mengerti
aku terus tertawa

jika yang lain harus berjalan,
aku harus terbang, kataku
kau menggeleng tanda tak mengerti
jika yang lain harus mencapai titik A
sebisa mungkin aku harus bisa sampai Z
kau masih termangu
jika yang lain belajar 1 + 1
aku belajar perkalian, pembagian, kuadrat
kau terdiam tanda tak paham. 

aku menghela nafas, menguatkan diri
begini, jika manusia bangga bisa menginjak bulan
saat itu juga di pluto aku harus dapat membangun peradaban
kau tak percaya dan aku lelah membuat perumpamaan. 

kau bilang ini dan itu
tak ada yang baik dimataku
kau memprotes, aku diam membisu
dalam hati saja aku mengaku

karena sejauh - jauhnya galaksi aku harus bermimpi,
sejauh - jauhnya galaksi lah aku harus mencapai
mencapai ruang hampa udara
yang tak pernah pasti
yang tak dapat diselami

kau iri akan segala pencapaian yang aku punya
aku iri akan segala tuntutan yang tak kau punya

kau terdiam karena ditertawakan
aku membisu dalam hati meratapi kekalahan
debat kali ini sepenuhnya kau menangkan
selamat.