Past : Better vs Bitter


No Racism, please.




























             Unity in Diversity

Marry your daughter :)

Seriously, this song is so .... sweet! Too sweet to be true ? :p 




Marry your daughter - Brian McKnight.

Sir, I'm a bit nervous
'Bout being here today
Still not real sure what I'm going to say
So bare with me please
If I take up too much of your time,
See in this box is a ring for your oldest
She's my everything and all that I know is
It would be such a relief if I knew that we were on the same side
Very soon I'm hoping that I...

Can marry your daughter
And make her my wife
I want her to be the only girl that I love for the rest of my life
And give her the best of me 'till the day that I die, yeah
I'm gonna marry your princess
And make her my queen
She'll be the most beautiful bride that I've ever seen
Can't wait to smile
When she walks down the isle
On the arm of her father
On the day that I marry your daughter
She's been hearing for steps
Since the day that we met 
(I'm scared to death to think of what would happen if she ever left)
So don't you ever worry about me ever treating her bad
I've got most of my vows done so far
(So bring on the better or worse)
And tell death do us part
There's no doubt in my mind
It's time

I'm ready to start
I swear to you with all of my heart...

I'm gonna marry your daughter
And make her my wife
I want her to be the only girl that I love for the rest of my life
And give her the best of me 'till the day that I die, yeah
I'm gonna marry your princess
And make her my queen
She'll be the most beautiful bride that I've ever seen
I can't wait to smile
As she walks down the isle
On the arm of her father
On the day that I marry your daughter

The first time I saw her
I swear I knew that I say I do
I'm gonna marry your daughter
And make her my wife
I want her to be the only girl that I love for the rest of my life
And give her the best of me 'till the day that I die
I'm gonna marry your princess
And make her my queen
She'll be the most beautiful bride that I've ever seen
I can't wait to smile
As she walks down the isle
On the arm of her father
On the day that I marry your daughter

Losing 'em

Kalah ?

Waktu gw kecil, gw sering ikut lomba (terutama lomba gambar), gw inget gw selalu diingetin orang - orang yang lebih tua daripada gw : "kalah atau menang itu biasa. yang penting usaha dulu". Dari dulu, gw bisa dibilang selalu nyantai pas lomba. Mau menang, atau enggak. Itu urusan belakangan. Bisa dibilang, orang tua gw, atau mungkin guru gw yang bisa lebih panik dan lebih stress daripada gw. 

Tetapi, kenyataannya, semakin berjalannya waktu, dan semakin jarangnya gw ikut lomba, bukannya bertambah bijak untuk bisa berbesar hati menerima kekalahan, sekarang gw mengenal satu perasaan baru setiap kali kalah : rasa nyesek. 

Mungkin karena frekuensi lomba gw yang jauh berkurang 5 tahun belakangan ini, membuat gw, setiap kali lomba memiliki ekspetasi akan menang. Ya iyalah, siapa sih yang ga mau menang ? Bahkan, setelah gw mencoba untuk membesarkan hati, tetep aja ada perasaan ga terima kalo kalah. Kata-kata yang dulu gw terima udah ga berbekas di pikiran dan hati gw. Tujuan gw cuma satu. Menang. 

Sepertinya begitu juga yang gw alamin dengan 3 lomba terakhir ini. Satu lomba adalah bidang lama gw : menggambar. Tetapi karena kurang waktu, kurang latihan, dan persiapan, dan lama ga lomba selain itu kalah dari teknik, gw kalah di lomba pertama. Gw expect setidaknya gw bisa menang lah. Nyatanya enggak ? Dua lomba berikutnya merupakan hal baru bagi gw. Yang satu, lomba membuat  esai yang deadlinenya akhir September, dan yang satunya lagi membuat film singkat (dimana gw berperan sebagai produser) yang batas waktunyaakhir Oktober. Lucunya, pengumuman kedua lomba ini hanya berjarak satu minggu. Gw ga mau mencoba membela diri gw, tapi gw tau banget keduanya gw bikin ga terbaik yang gw dah lakuin. Gw tau gw bisa buat lebih daripada ini. Tapi, dengan segala kendala yang ada, tuh lomba berhasil dikirim juga ke panitia penyelenggara. 

Lomba pertama yang diumumin adalah lomba film singkat itu. Gw dengan deg-degan, di satu pihak tau kalau rada ga mungkin bisa masuk 20 besar dan di satu sisi gw mengharapkan keajaiban, membuka websitenya dan ...... tim produksi gw ga masuk. Cukup disitu ? Enggak. Lomba kedua, yaitu lomba esai, ketika gw cek di websitenya, gw juga ga masuk 20 besar juga. Walaupun udah nyiapin diri dan mental, gw masih ga tahan dengan rasa nyesek itu. Rasanya ada sesuatu yang ga terselesaikan. 

Sehari setelah lewat dari pengumuman lomba kedua, pas Indonesia lawan Malaysia di babak penyisihan grup A. Gw emang demen nonton lomba - lomba SEA GAMES, terutama bola. Gw ngikutin mulai dari Tim Garuda Muda lawan Singapore, dari awal ampe akhir pertandingan. Gw mesti ngakuin Indonesia mainnya bagus, terutama pas lawan Vietnam kemarin. Rada beda dengan AFF akhir tahun lalu. Tapi, yah, pas babak penyisihan itu, banyak permainan dirotasi. Tanpa sadar, gw membawa ekspetasi yang sama dengan dua lomba terakhir gw : berharap keajaiban walaupun gw tau hasilnya ga akan maksimal. Indonesia bisa lebih baik daripada ini. Dan hasilnya ? Sama seperti gw, Indonesia kalah 1-0 dari Malaysia. Kekalahan dan kepahitan itu harus dicicipi. Nyesek? Tentu saja iya. Gw berharap Indonesia bisa membalas kekalahan di AFF akhir tahun lalu, tapi biar bagaimanapun gw masih bisa nerima itu semua. 

Permainan Indonesia yang bagus pada semi final kemarin, menghibur dan menimbulkan harapan, ga cuma buat gw, tetapi buat seluruh rakyat Indonesia. Kita berharap Indonesia tampil maksimal malem ini. Ya, memang ada rasa lelah pasti. Tetapi biar bagaimanapun, full team dengan motivasi besar mengalahkan musuh bebuyutan rasanya dapat menutupi kemungkinan kita kalah. Gol pertama di menit ke 6 pula. Bagaimana mungkin kita tidak bisa berharap ? 

Tetapi pada akhirnya, Indonesia tetap harus mencicipi kekalahan itu. Lagi. Nyeseknya bukan karena kita ga main bagus. Indonesia main bagus banget selama 120 menit lebih tadi. Masalahnya karena kita kalah. Beda tipis. Ama musuh bebuyutan lagi. Yang semestinya bisa aja jadi milik kita. Yang kita tunggu-tunggu selama 20 tahun. Yang ceritanya kita main bagus banget Sabtu kemarin. Yang sebenernya kemenangan itu bisa aja jadi milik kita. 3 x Indonesia lawan Malaysia, mulai dari AFF, penyisihan grup, dan final kali ini, 3 x ini gw berdoa dan berharap banget Indonesia menang, dan 3 x Indonesia kalah. Nyesek. 

Hal  pertama yang gw ajukan ke Babe gw adalah, "Dad, this is the 3rd time I ask You. Why You let them win ? Why, Dad? I can't understand. I don't want to understand. It's not fair. Our team is better than them. Why they can win and we lose... for the 3rd time. It's not fair." Dan seketika itu juga, Babe gw mengingatkan apa yang suara hati gw bilang pas gw kalah : "
"Ini bukan tentang kamu yang sedang belajar berjalan dan jatuh. Ini tentang kamu yang belajar untuk bangkit dan terbang tinggi setelah kamu terjatuh."
Gw otomatis protes, "tapi.. tapi kan Indonesia juga udah bagus banget mainnya. Tapi kan aku juga dah nyoba." Dan sekali lagi, gw diingatkan, 
"berapa kali Indonesia menang?" ..
"6x"
"Apa Indonesia kalah kemarin ama Malaysia?"
"Em iya..."
"Tapi apa itu membuktikan Indonesia jelek mainnya?"
"Enggak juga"
"Kamu?"
"Em... 20an lebih"
"Jadi?"
Dan saat itu juga gw langsung teringat video2 yang gw dapet buat presentasi BP kemarin. Tentang anak2 yang diaborsi dan dijadiin makanan sup bayi. Tentang anak yang kaki nya diamputasi. Tentang  bayi yang umurnya cuma 99 hari. Dan gw ngeliat ke belakang hidup gw lagi, tentang hal - hal yang pernah gw menangin. Dan disitulah gw belajar untuk bersyukur. Nyesek nya masih ada. Tapi jauh berkurang. 
Disitulah gw mulai belajar ada hal - hal yang lebih besar daripada sekedar kemenangan kemenangan yang kita dapat. Ada kemenangan yang lebih besar. Ada pertandingan yang lebih hebat. Ada pertarungan yang masih menunggu kita di depan untuk ditaklukkan. Trofi, medali, dan piagam bisa menjadi usang, berdebu, dan hilang. Ada hal - hal yang lebih besar daripada sekedar mendali emas. Hal - hal yang tidak kita mengerti. Kita bahkan tidak gagal. Kita tidak kalah. Hanya saja kemenangan itu masih belum kita yang dapat. Hari ini masih mereka yang dapat. Apakah kekalahan Indonesia menentukan Indonesia bermain jelek? Tidak. Apakah kekalahan kita menentukan bagaimana performa kita ke depannya ? Tidak juga. Hal yang kita liat sebagai 'kegagalan' bukanlah patokan tentang siapa diri kita dan bagaimana potensi kita ke depannya. 'Kegagalan' seharusnya menjadi motivasi kita ke depannya.
Sekarang tergantung kitanya sendiri, apakah kita memilih untuk bangkit dan terbang tinggi atau tergeletak sampai mati.  

Tentang Hidup















Untuk waktu, 

Minggu lalu, guruku mengumpulkan kami semua. Dan membagi satu tugas. 
Sederhana saja. Tugasnya adalah membuat presentasi dan laporan 
tentang "Penghargaan kepada Hidup" yang berisi tentang arti hidup dan 
artikel yang mendukung...Aku mendengar suara - suara dari teman-teman sekelasku. Sebagian besar berceloteh, "memangnya apa arti hidup?"
Teman -teman sekelompokku saat itu juga menghampiriku dan aku didelegasikan untuk membuat bagian arti hidup itu Saat itu, aku mengiyakan, walau dalam hati aku pun bertanya, "apa arti hidup?"
.
Aku memutar otakku untuk mencari apa sebenarnya arti hidup itu. 
Aku mencoba membuka google, wikipedia, bahkan kamus. 
Tapi tidak ada yang dapat mendefinisikannya dengan pasti. 
Kata "Hidup" merepresentasikan kata kerja, kata benda, dan kata sifat. 

" Untuk mendefinisikan "kehidupan" dalam istilah yang tegas masih merupakan tantangan bagi para ilmuwan dan filsuf. Mendefinisikan "kehidupan" adalah hal yang sulit, karena hidup adalah sebuah proses, bukan substansi murni.Definisi apapun harus cukup luas untuk mencakup seluruh kehidupan yang dikenal, dan definisi tersebut harus cukup umum, sehingga, dengan itu, ilmuwan tidak akan melewatkan kehidupan yang mungkin secara mendasar berbeda dari kehidupan di bumi - wikipedia  "

Lalu aku mencoba untuk mencari apa yang orang - orang katakan tentang hidup. Ada yang menganggap hidup itu adalah suatu musibah. Neraka dalam bumi. Ada yang menganggap hidup itu indah. Menyenangkan. 
Sebagian mendefinisikan hidup sebagai roda. Kata mereka, hidup terkadang bisa diatas, bisa juga berada di bawah. Benarkah demikian ?
Mereka juga mengatakan hidup itu pilihan. Kita harus membuat keputusan - keputusan tiap harinya yang menentukan jalan hidup kita. 
Sebagian lagi mengatakan hidup adalah petualangan. Setiap masalah yang kita hadapi adalah tantangan yang harus kita lewati. Dari satu level ke level berikutnya. 
Ada yang bilang hidup itu adalah suatu kisah yang tertulis di buku yang kosong. Kisah yang kita tulis dengan kehidupan kita sendiri. 
Sebagian yang berpendapat hidup hanyalah permainan. 
Sebagian lagi berkata hidup adalah hadiah. Anugerah dari Tuhan.
Dan seseorang pernah mengatakan kepadaku, bahwa hidup adalah suatu perjalanan yang panjang.. Bukan tujuan, tetapi sebuah perjalanan. 

Jadi .... Apa arti hidup? 

Aku masih tidak tahu ......

Bagaimana mungkin menyatukan pikiran tentang hidup yang dialami anak - anak kelaparan di tengah benua hitam dan anak- anak manja dan kaya di daerah elit? 
Bagaimana mungkin menyatukan definisi tentang hidup yang dialami oleh nenek - nenek berusia 100 tahun dan bocah yang meninggal karena kecelakaan ? 
Apa mungkin benar bahwa kita tidak pernah bisa mendefinisikan hidup?
Yang hanya bisa kita lakukan adalah menjalaninya. 

Sekali lagi, aku tidak tahu. 

Aku membayangkan, 50.. 60 tahun ke depan
Duduk di teras rumahku. Bercengkerama dengan orang-orang terdekatku
Membicarakan apa yang telah kita lewati dalam hidup
Menasihati anak - anakku, atau mungkin cucuku kelak
Menjelaskan apa arti kehidupan ini. 
Tetapi hingga saat ini, aku masih tidak mendapat jawabannya

Dan untukmu, waktu. Aku ingin bertanya padamu... "Apa arti hidup?"
Kau telah bersamanya semenjak dunia pertama kali terbentuk. 
Dapatkah kau menjelaskannya padaku ? 



 

untitled

















aku ingat saat tangan - tangan kita masih terlalu kecil untuk saling mengenggam 
tertawa melihat es krim stoberi susu yang tertinggal di ujung bibirmu
ketika dunia masih terlalu luas, terlalu lebar untuk kita jelajahi
masih terdengar di telingaku celotehanmu,
suaramu masih tinggi, belum serendah kini
ketika kelingking kita bertaut, mengucapkan janji
berjanji akan dunia yang akan kita lihat suatu saat nanti 
dimulai dari serangkaian kata : "bila kita sudah dewasa....."


aku teringat akan piyama yang kau pakai : biru tua
rambutku pun masih dikepang dua,  
dan rambutmu terlihat berantakan, tidak secepak saat ini.
ketika kita duduk berdua di bawah langit tak bertepi
seakan akan bintang bersanding dengan bulan dan matahari
kau tunjukkan padaku pelangi di tengah malam
samar, nyaris tak terlihat, pudar, dan kelam
namun jelas terlihat semburat warna warni di hati
waktu masih berderak lambat, tidak cepat, tidak berlari


aku teringat ketika kita bebas melakukan apa yang kita suka 
kau ada ketika senja berembun, pagi yang hangat, bahkan saat gerimis tiba.
berambisi, menertawakan kehidupan, menantang dunia.
tidak terikat harga diri apalagi yang namanya gengsi
menghabiskan jam - jam berkhayal dan bermimpi
tertawa hingga larut malam yang sepi,
berlari dari atas bukit, berlomba hingga ke paling bawah
petak umpet di taman bermain, dan adu cepat turun dari perosotan
mendengar suara kambing, menyusuri perkebunan
bernyanyi dan bersenandung, tanpa malu
makan es krim sebanyak yang kita mau
berbagi mimpi dan dunia. dunia milik kita berdua.

aku teringat ketika kau hilang tanpa kabar
apa aku merasa sedih ? aku sudah tidak ingat
ada kalanya kita bertemu. itupun samar - samar
ketika sudah membentur dinding realitas,
berjalan di jalan panjang menuju suatu tempat bernama kedewasaan
ada harga diri yang tertahan setiap kali membentuk senyuman
ada perasaan malu malu setiap kali mata beradu
hanya jabatan tangan. bukan lagi genggaman erat.
hanya senyum tipis. bukan lagi tawa yang pecah.

aku tak lagi mengingat apapun
ketika kita sudah berada di dua tempat yang berbeda
tak ada lagi kata "andai kita dewasa".. tak ada mimpi. tak ada ambisi.
semua yang ada sedang kita jalani. sedang kita rasakan. sedang kita cicipi.
kita mulai paham bahwa bumi selalu berputar, dan hidup tidak semu
waktu berjalan cepat, meninggalkan kenangan yang sudah berdebu
tak ada lagi yang mengingat janji itu, janji masa kecil antara aku dan kamu
karena dunia sesak. juga sempit. tidak sebesar kelihatannya.
langit tidak seindah yang kita pernah bayangkan sebelumnya
ketika kita menggapai langit, bintang telah lenyap ditelan gelapnya malam.
dan es krim yang selalu kita makan, sudah hilang dari pasaran. 

lalu bagaimana dengan kita ? 
aku dan kamu telah tenggelam dalam rutinitas. 
dengan dunia kita masing - masing.
bagaimana kita bisa menjelajahi dunia, kalau dunia kita berbeda?
bagaimana kita bisa menantang dunia, kalau dunia kita tak lagi sama?
aku tidak ingat. dan aku tidak lagi mencoba mengingat. 
tak ada lagi dua anak kecil yang berjanji mengalahkan dunia. 

dan bila suatu saat jalan hidup kita bisa bertemu lagi, 
siapakah yang kau lihat dan kau temui? 
gadis kecil yang berani bermimpi dan lugu dalam mengerti dunia ?
atau wanita dewasa yang menyesuaikan diri dengan realita?


..
aku masih berharap yang kau temukan adalah gadis kecil itu


(hufft. panjang juga. capek ga bacanya ? hahaha... setengah fiksi ini.
terinspirasi dari seseorang, tapi tidak didedikasikan untuk siapa2)