The Impassable Distance

11:49:00 PM Valencia Ng 0 Comments

Prolog. 
Manusia berbangga-bangga diri. Jarak bisa diukur, katanya! Tak perlu kau jejerkan penggaris sedemikian rupa. karna jarak sudah bisa diukur! Bentangkan saja, bentangkan. Konversikan ke satuan apapun yang kamu mau........... ! Jarak dapat terhitung. Percayalah, jarak tidak berarti apa - apa. Di zaman yang semakin maju ini, jarak bukanlah masalah. Nyalakanlah tablet anda! Kirimkan pesan sedetik dua detik sampai. Jarak tidak berarti apa - apa terutama jika manusia  ! 

I. 
Semalam, kita menunggu waktu tiba. 1, 2......... lama juga rupanya. Kamu terlelap. Lalu aku menetap. Sebelumnya kamu memilih di sebelahku. Memilih. Di. Sebelah. Aku. Memilih..................3 inci dari wajahku dan kemudian jarak itu mencairlah. Segala jarak, segala kenapa, segara rintangan yang sebelumnya aku cegah meluluhlah .......... Dan aku denganmu, seperti kawan lama. Seperti sama - sama manusia biasa. Padahal, kita alien dari planet yang berbeda. Padahal, kita tidak tinggal di galaksi yang sama. Padahal, padahal............... Tapi di detik - detik yang melambat, kita seperti mengenal lama. Di tengah kegelapan, jiwa kita saling meraba. Sampai caya terakhir, janjimu. Dan kau menepatinya. Dan aku percaya karnanya. Karna mungkin, mungkin saja.......... ada kemungkinan kita bersama? 

II. 
Pagi tadi, dan segalanya berubah. Seperti lilin yang ditiup, matilah semua. Kau terbangun perlahan. Terduduk pelan. Butuh beberapa menit sebelum kau kembali ingatan. Maka kembalilah sistem itu seperti air bah. Lalu kamu pergi ke kamar mandi dan mengguyur sisa - sisa semalam. Dan kemudian kamu terdiam lama. Lama........... Sangat lama. Jarak kita tidak berubah. Masih 3 inci saja. Tapi jarak itu memuai. Aneh, kalau diukur padahal sama saja..................kenapa sekarang rasanya kamu jauh sekali?

III. 
3 inci jadi 30 inci. kemudian 300 inci. kemudian 3000. Seperti deret aritmatika jaraknya kini sungguhan terpisah. Bahkan waktu pun tidak mau sepakat bersama. Ya sudah........ apa hendak dikata ? Tapi kita coba, dan kita berusaha menekan jarak itu, satu per satu. Biar kata kecepatan cahaya tak berubah. Biar kata jarak galaksi kita berbeda. Ah, peduli amat. Jarak itu tak terasa. Dekat. Padahal sungguhnya jauh. Kamu tak percaya. Aku berikan contoh kepadamu untuk menyapa orang di sebelahmu saat kau duduk di kereta. Kau tak kenal kan? Padahal mungkin dia hanya 3 inci darimu. Jarak itu tetap relatif, ujarku. Dan kamu tertawa tidak percaya. 

IV. 
Jarak itu bersimpangan. Dan mulai tidak bisa dilalui. Jarak itu saling menindih dan mulai membentuk jurang. Kembalikanlah kewarasanku sebelum aku memilih melompat dan terbang untuk menyeberanginya. Jarak, itu masih relatif. Sehebat-hebatnya manusia mengukur, itu yang kelihatan saja. Karna sesungguhnya banyak jarak yang tak kasat mata. Yang tak terlihat, namun memisahkan.

Epilog. 
Jarak dapat terhitung! Jarak tiada artinya! Aku lewati orang - orang kasmaran yang sedang berteriak - teriak melawan jarak. Aku sudah cukup...............tahu. Kurapatkan mantelku dan berjalan. 3 inci disamping dirimu. Namun jurang melebar, memuai, dan mendalam terbentang di antara kita.

End.

0 comments:

Tell me anything